Kamis, 16 April 2015

perahu

"Berada di atas perahu dan laut membuatmu tahu bahwa angin akan membawa perahumu berlayar jauh. Pertanyaanku hanya satu, 'ke manakah akan kau bawa perahumu pergi?'"

-ann-

Sabtu, 28 Maret 2015

bersama(mu)

Kita duduk bersama.
Menghabiskan waktu bersama.
Dan mencipta waktu bagi diri kita yang dihiasi dengan berbagai cerita
yang mengalir dari masing-masing mulut kita.
Itulah cara aku tahu bahwa ternyata kita harus bersama.

Bersama menembus waktu-waktu yang menjenuhkan.
Bersama menjelajahi kehidupan.
Bersama mengarungi semesta.
Bersama untuk mematikan rasa kesendirian.

Kebersamaan kita telah mengundang waktu untuk menjadi teman perjalanan kita.
Tidak lagi menjadi musuh yang berkejaran saling mendahului.

Sekarang, waktu dan kita adalah teman.
Ia membawa kita menua bersama.
Bersama kesedihan.
Bersama kebahagian.
Bersama waktu.
Dan bersamamu.

Untuk mereka dan teman hidupnya :)


-ann-

Rabu, 11 Maret 2015

tanda titik. tanda tanya?

tanda titik. kemudian muncul tanda tanya? Lalu dijawab oleh tanda titik dan disambut oleh tanda tanya. Kembali tanda titik hadir, kembali tanda tanya mengikuti, kembali tanda titik mencoba mengakhiri, kembali tanda tanya bertanya. Tanda titik. Tanda tanya? Tanda titik. Tanda tanya? Tanda titik. Tanda tanya? Tanda titik. Tanda tanya? Tanda titik. Tanda tanya? Begitu seterusnya hingga ada yang berhasil mengakhiri, yaitu tanda....


-ann-

Kamis, 20 November 2014

di dalam kata ...

Di pantai yang berombak,
ia dihanyutkan menuju samudera luas
diterbangkan bersama angin pantai yang berhembus kencang
dibenamkan di dalam pasir putih
dan ditenggelamkan bersama perginya matahari senja

Sialnya,
di dalam samudera ia semakin dalam
dibawa angin ia semakin tinggi
dibenam pasir putih ia semakin hangat
dan dibawa matahari senja ia bertemu keheningan malam

semuanya untuk direnungkan:
bahwa nyatanya ia ingin singgah lebih lama di dalam kata yang disebut …


-ann-

Rabu, 23 Juli 2014

diundang

kami mengundang awan malam datang kemari untuk membawa setetes air hujan dan bersedia meneteskannya di atas tanah tempat kami berpijak sampai kami kembali hidup di pagi hari disambut aroma tanah basah sebagai hadiah dari hujan yang datang hadir semalam.


-ann-

Sabtu, 19 Juli 2014

waktu

Waktu pasti datang.


Masa? Aku sudah menunggunya sedari tadi.
Sampai bibirku tak bisa lagi diajak tersenyum.
Sampai tanganku harus menopang wajahku yang kian memberat malas.
Sampai kakiku bergetar-getar tak sabar.


Tenang saja. Waktu pasti datang.


Aku juga berharap seperti itu karna jawaban untukku dititipkan padanya.
Semoga saja ia tidak lupa kalau ia telah dijanjikan pasti datang untukku.




*** 


Hei, kenapa ia tak datang juga?
Berkendara dengan apa dia ke sini?
Lama sekali!
Oh! Atau ia keliru kepada siapa seharusnya ia datangi?
Atau jangan-jangan ia malah lupa sama sekali?!
Aduh! Gawatlah kalau benar itu terjadi!
Bisa cemas seumur hidup aku dibuatnya!
Aku tidak mau!


(bersiap-siap)



Hendak kemana bersiap-siap seperti itu?



Aku akan menjemputnya.


Siapa?


Waktu. 




-ann-

Sabtu, 05 Juli 2014

turun hujan


Karena hujan sering menjadi kambing hitam di siang hari, akhirnya ia putuskan untuk menunggu matahari menghilang terlebih dahulu. Ia pikir itu adalah waktu yang tepat baginya. Tak ada yang bisa melihat rupanya dengan jelas karena di saat itu ia berhasil bersembunyi dari cahaya bulan dan berlalu dengan cepat di hadapan cahaya lampu-lampu kota. Di keheningan itu, ia luapkan seluruh emosinya. Mereka yang mendengarnya akan jatuh tenggelam ikut berbahagia dan termenung sepanjang malam. Sepanjang malam. Selama itu hujan turun. Selama itu pula mereka termenung bahwa rupa bahagia hujan tak akan mereka lihat saat kebencian lebih menguasai diri mereka. Kunjungan hujan malam itu diakhiri dengan sebuah pesan untuk membiarkan dirinya turun esok hari sebelum matahari menghilang lagi.


-ann-