Minggu, 30 Juni 2013

antara

antara suhu dan air terselip emosi.
jika suhu itu semakin merendah, air semakin mengeras padat  rapat menyatu.
dingin.
tapi jika suhu semakin tinggi, air akan menguap lepas
dan jumlahnya semakin berkurang.
katanya sudah tidak ada lagi tempat sepaham.


antara manusia dan hidup terdapat air.
jika air itu dingin beku, matilah rasa perlahan.
namun jika air itu memanas, akan menguap lepas perlahan.


antara manusia dan hidup terdapat masalah.
dan di antara membeku dan menguap ada yang mengalir tenang.


-an-

Jumat, 31 Mei 2013

surat seseorang

Semesta, kapanpun kau baca


Untuk seseorang,


Hai! Pernahkah kau mendengar semesta menyeru? Kepada nama selain Tuhan.
Seseorang yang berjarak.
Surat ini kutulis karena semesta yang pinta.


Dari,

Seseorang.



-an-

Jumat, 17 Mei 2013

yang dinanti-nanti seseorang

Bumi telah berselimut malam. Jutaan orang yang lalu lalang sejak pagi, sekarang hilang di balik selimut tidurnya. Memejamkan mata dan pergi ke alam mimpi masing-masing. Inilah waktunya tubuh-tubuh mereka relaksasi setelah seharian mengarungi  penat dan terik.

Di situ, di ujung keheningan malam, awan-awan malam berusaha meninabobokan seseorang, tapi seseorang tak juga kunjung tidur, malah mengajak awan-awan malam berbincang diam bersama angin malam. Dan kepulan asap teh hangat cemberut pergi meninggalkan cangkir mungil, tempatnya menunggu.

Masih diam. Seseorang menaruh sikunya di atas lengan kursi tua, berpangku tangan menanti-nanti. Pantatnya tak juga mau beranjak pergi. Menempel lekat pada dasar kursi. Terdengar hentak kecil kaki semakin menjadi-jadi! Ah! Seseorang yang sedang menanti-nanti!

"Sabar. Sabar." Adalah kata yang terucap dalam hati.

Ditengoknya jam dinding putih yang bertengger di atas televisi. Jarum jam menunjuk tepat pukul 1 dini hari! Dan dia belum juga datang!

Kekecewaan mulai membungkus harapan seseorang yang sedang menanti-nanti. Seseorang pun beranjak menuju kamar mandi. Gosok gigi dan cuci kaki, hendak pergi tidur dan tidak memedulikan lagi yang dinanti-nanti sedari tadi.

Akhirnya selimut malam ditarik menutup diri. Awan-awan dini hari mulai bersenandung nina bobo dan jiwa seseorang siap diserahkan pada pagi untuk terpejam mengarungi mimpi, ketika terdengar yang dinanti hadir memanggil:



"TE, SATEEEEEE! SATE AYAMNYA DEEEEEEEK!"



Nah!


-an-

Senin, 06 Mei 2013

peluk

Merayu lembut sinar sang surya merasuki sela-sela pelupuk mata dan mengalir melalui nadi-nadi tubuh. Memaksa mata membuka, menikmati pagi. Telapak-telapak tangan kecil menyapa manja sang surya.
Surya surya kemarilah
Bawa sinarmu memeluk dekat
Peluk aku peluk, Sang surya!
Kemari…
Kemarilah!
Di dalam cerobong asap, kunang-kunang merajut ribuan cahaya. Letih. Lalu mati satu persatu.
Iba, merpati putih terbang tinggi mengabarkan pada langit dengan siulan bisunya.
Memendunglah wajah langit mendengar, menunjuk tanda duka...
Gelap.
Tercium bau udara duka di sini...

Peluk aku peluk!
Hibur aku sang surya!
Dekap!
Dekap aku bersama hunusan sinarmu!
Yang berpendar menguasai pagi!


Berlari aku mencari, berteriak sendiri
PELUK AKU PELUK, SANG SURYA!
HUNUSKAN SINARMU PADA NADI-NADIKU!
TELUSURI ALIRAN DARAH-DARAH TUBUHKU!
RACUNI DAN BUNUHLAH AKU KEMUDIAN!
MUAK! MUAK! AKU SUDAH MUAK!

Peluk...
Peluk aku, Sang surya...

Berpaling,
Sang surya malah melenggang pergi,
Aku benci harus mengejar lagi sang surya dan memohon!

Kurentangkanlah sepasang sayap yang tak mau mengepak,
bersikap bagai payung penangkal terik
dan surya, surya, sang surya semakin menjauh pergi
Seperti tidak mau menoleh lagi.
Tersinggung, ya?


Jangan pergi, sang surya...
Sang kunang-kunang telah mati di dalam cerobong asap pagi tadi...

-an-

Rabu, 01 Mei 2013

jejak

ada seseorang menatap dari balik jendela
ribuan langkah meninggalkan jejak
dalam jejak mengendap sebuah harapan
dalam harapan terselip ribuan doa

dan terdengar kicauan burung
menyanyikan pagi
lagu-lagu bagi sang kaki
mengajak langkah menari-nari
pergi menepi di pantai tepi


-an-

Sabtu, 27 April 2013

kentut, si bos besar, dan kentut si bos besar

ini cerita tentang si bos besar, kentut, dan kentut si bos besar. suatu ketika, bos besar dan kentut girang-girang hore sana-sini. kentut selalu meniru-niru si bos besar. kemana si bos besar berjalan ke situlah si kentut berlabuh. seakan si bos besar memiliki sebuah kekuatan kharismatik bagi si kentut. sebenarnya si kentut menyimpan kagum pada si bos besar dan ketika mereka tumbuh besar, si kentut masih saja bersembunyi di belakang bos besar, tidak mau pergi dan mengumpat berlindung. tapi tidak bisa! tidak bisa terus begini! kentut harus menjadi diri sendiri. menjadi kentut!

sekarang ceritanya si kentut pun akhirnya sadar. ia sudah siap mengambil langkah pertamanya. mencari pelabuhannya sendiri.

tapi, kentut...

ah! sudah-sudah! kentut tidak bisa selamanya berada di balik punggung si bos besar terus! hem... apa kata yang tepat? mandiri? oh ya! kentut harus mandiri! selain menjadi diri sendiri, kentut juga harus mandiri. ya, ya, ya!

kemudian berjalanlah kentut di atas langkah pertamanya. langkah kedua, ketiga , keempat... eh dia malah kembali menemui bos besar. bos besar heran, kentut kembali dengan perasaan bahagianya. 

"kamu kenapa, Tut?"

ceritalah si kentut kalau di perjalanannya tadi dia bertemu seseorang yang tanpa memaksa membuat dirinya terpesona. lalu berubahlah air muka kentut karena itu, semenjak itu. kentut bilang kalau kentut bingung. ia harus apa? bagaimana? maka pulanglah kentut dan menemui bos besar dan bercerita tentang seseorang itu. kata bos besar, kentut sedang jatuh cinta. eh? benarkah? kentut heran bengong-bengong. dan si bos besar bersiap memasang kupingnya untuk menjadi muntahan kata-kata kentut di hari-hari selanjutnya. cerita-cerita kentut. keluhan-keluhan kentut dan sebagainya. kadang, ada saatnya kita hanya membutuhkan sepasang telinga untuk mendengarkan, dan kentut senang, bos besar mau mendengarkan! kadang keluar juga nasihat-nasihat tua si bos besar ketika dirasa diperlukan.




bos besar, mungkin kelak akan ada saatnya kentut tidak kembali. bukan karena kentut muak, bukan karena kentut jenuh, bukan karena kentut marah. tapi mungkin itulah saatnya kentut telak menjadi kentut. lepas dari balik punggung bos besar, lepas dari pantat bos besar. sekarang kentut mau kembali berjalan, meneruskan langkah kentut menuju pelabuhan kentut sendiri. tidak lagi seperti kita kecil, ketika kentut ingin menjadi seperti bos besar. 

tapi sampai besok, besok, besoknya besok. kapanpun. kentut tetap kentutnya si bos besar...


"TERIMA KASIH, BOS BESAR!"



untuk si bos besar: tetap menjadi si bos besar untuk kentut-kentutnya



-an-

Rabu, 17 April 2013

jalan

"Kita memilih jalan setapak sendiri-sendiri. Aku dengan jalan setapakku dan kamu dengan jalan setapakmu. Di setiap jalan setapak yang kita lewati, akan kita temui jalan-jalan setapak berikutnya. Mau kemana kamu? Mau kemana aku? Dari jalan-jalan setapak itu, nanti akan ada persimpangan. Di persimpangan itulah kita akan bertemu dan kita akan melihat kembali jalan-jalan setapak yang menghampar di depan persimpangan itu; tanda kalau kita tidak boleh berlama singgah. Nah, pada saat itu apakah kamu akan mengambil jalan setapakmu dan aku mengambil jalan setapakku, lalu berharap bertemu di persimpangan berikutnya? Atau kita akan mengambil jalan setapak kita?..."




Sayang, pembicaraan itupun berakhir bisu hingga tiba di persimpangan...



-an-